Masa Kecilku
Namaku
adalah “Muhammad Fendi Sugiharto”
saat masich balita namaku adalah ” Dwi
Fendi Lesmana”, adalah desa sumber makmur tempat aku lahir pada hari kedelapan bulan
april tahun 1993, sebuah desa transmigrasi dari
kec.tapung -RIAU yang dihuni
berbagai warga yang berasal dari macam-macam daerah dari pulau jawa dan
sumatera. Dulunya itu adalah hutan belantara dimana itu masich banyak
binatang-binatang liar yang menghuni kawasan itu. Aku adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Bapaku
bernama “sumaryono” dan Ibuku bernama “Sumini Rahayu” mereka adalah orang
terbaik dalam hidupku.
di
desa transmigrasi itu, yang
saat itu dihuni
berbagai warga yang berasal dari macam-macam daerah dari pulau jawa dan
sumatera. Dulunya itu adalah hutan belantara dimana itu masich banyak
binatang-binatang liar yang menghuni kawasan itu, seperti gajah harimau beruang dan hewan-hewan
besar lainya. Bahkan saat umur 3 tahun setengah aku sering setiap pagi di
kejar-kejar oleh monyet monyet yang biasanya setiap pagi mereka sering berkumpul di belakang rumahku di atas
pohon besar yang telah tumbang. hahah.. aku selalu tertawa mengingat hal itu.
Lalu
sekitar tahun 1996 bapaku berencana ingin menetap di Surabaya bersama
saudara-saudaranya dan kakek dan neneku. Aku di bawa orang tuaku ke jombang
tepatnya di desa cangkring randu kecamatan perak. Disana aku tinggal dengan
kakek (mbah samsi) dan neneku (mbok tomblok) (orangtua ibuku), rumahnya masich
tradisional sekali dindingnya saja terbuat dari cerkak (sebuh dinding yang di
anyam dari bamboo) lalu beratapkan gabah (anyaman daun padi) dan berlataikan
tanah hitam yang di tinggikan dari datarn tanah di sekitarnya.
Mereka sangat menyukaiku “nang ning ning nang
ning nong” begitulah seterusnya mereka saat memomongku, terkadang aku
dinyanyikan lagu-lagu bahasa jawa oleh mereka. Saat itu bapaku bekerja sebagai
asongan di sebuah di stasiun KAI jurusan Surabaya-Blitar. Aku sering di ajak naik kreta api dengan
bapaku sebelum sekolah dulu. Lokasinya tidak jauh dari rumah mbah kakungku di
desa Nggeneng, disana ada sepupuku anak dari pak de WAR, namanya Tanto dan
adiknya yang sebaya denganku Tanti. Aku juga sering bermain dengan mereka juga
mbakku.
Setengah
tahun berlalu bapaku mengajak kami pindah ke perumahan “Denanyar” yaitu perumahan
untuk pensiunan militer milik mbah kong/mbah kakung (bapaknya bapaku). Semuanya
ikut terkecuali mbak ida (kakaku maida fajarini lengkapnya), dia tidak ikut di
karenakan dia harus melanjutkan pendidikan dasar di SDN cangkring randu II,
hanya saja dia 2 minggu sekali dating ke den anyar di saat hari libur sekolah. Kami
pindah untuk sementara waktu sampai rumah yang sedang di bangun di belakang
rumah neneku rampung.
Sekitar
tahun 1998 bapaku pergi ke sumatera mengurus tanah pekarangan seluas 2 hektar dan
rumah yang ada di tanah itu yang akan di sewakan statusnya kepada Slamet. Setahun
bapaku di sumatera saat itu aku mulai masuk sekolah di sebuah “Taman Kanak-kanak
R.A miftahul-huda” temuwulan, perak-jombang.
Setiap hari aku di antar dan di jemput menggunakan sepeda ontel. Aku duduk di belakang, dan kakiku di ikat dengan jarik di dekat tempat duduk supir, agar kakiku tidak masuk ke dalam jari-jari sepeda, karna sebelumnya kakiku pernah masuk kedalam jari-jari sebelum bapaku ke sumatera. Proses antar jemput itu dilakukan terus selama 2 caturwulan (8 bulan), setiap hari setelah mengantarku ibuku menyempatkan diri mampir ke rumahnya mbok (neneku), sambil menunggu aku pulang sekolah.
Setiap hari aku di antar dan di jemput menggunakan sepeda ontel. Aku duduk di belakang, dan kakiku di ikat dengan jarik di dekat tempat duduk supir, agar kakiku tidak masuk ke dalam jari-jari sepeda, karna sebelumnya kakiku pernah masuk kedalam jari-jari sebelum bapaku ke sumatera. Proses antar jemput itu dilakukan terus selama 2 caturwulan (8 bulan), setiap hari setelah mengantarku ibuku menyempatkan diri mampir ke rumahnya mbok (neneku), sambil menunggu aku pulang sekolah.
1999
bapaku sudah pulang dari sumatera, dia mengajak kami pindah ke rumah yang di
bangun, belum jadi sih.. tapi 60% sudah bisa di tempati, lalu dana yang di
dapat dari sewa rumah itu di pakai untuk hutang pembangunan rumah itu.
Umumnya
anak TK disana 2 tahun, aku malah lulus dalam waktu satu tahun, karena saat itu
aku sudah bias mengeja tulisan dan bisa menangkap pelajaran dengan cepat,
selain itu aku sudah iqra’ 2 saat masich TK, aku tidak lulus sebagai yang
terbaik, mungkin karena aku sering tidak datng karena sakit, sehingga aku harus
berganti nama, tetap dengan nama panggilanku ”fendi” nama di ijazah TK dan akte kelahiranku di tuliskan nama “Fendi Sugiharto”.
Kemudian
aku melanjutkan sekolah di SDN CANGKRING RANDU, tetap dengan 1 kepala sekolah SD
itu di bagi menjadi 2 bagian yang I dan II. SD itu di pisahkan dengan Sebuah
Lapangan Bola.Saat mengambil undian ternyata aku dapat undian bertuliskan ‘2’, yang artinya Lokalku satu atap
dengan kakaku,
Aku
terus mengalami peningkatan dalam belajar, yaah Alhamdulillah walupun tidak
juara minimal 10 besar selalu kudapat. 1 hal yang selalu aku ingat saat masich
sd, ketika aku di TK aku sering berkelahi dan aku jarang menangis, tapi saat SD
akulah murid paling cengeng, aku sering di jailin sama Ersa, badanya hitam seperti orang papua, rambutnya ikal perutnya
buncit, dah gitu bajunya kotor terus.
Tidak
seperti saat TK, kali ini aku semangat saat masuk SD karena aku 1 kelas dengan Evinia Kristanti,menurutku dia adalah
wanita tercantik saat itu. Aku jadi inget kejadian yang mestinya gak aku lakuin
waktu itu, aku sering brantem dengan ketua kelas Ganda Pradana dan wakilnya Rama
Aditya,
mereka juga suka sama Evi. Ya biasa korban tv, suatu hari pernah ngancem ganda g usah deket-deket sama evi, eh malah aku di buat nangis, malu banget tau nggak, dah lah nangis, evinya malah ngebela ganda.
mereka juga suka sama Evi. Ya biasa korban tv, suatu hari pernah ngancem ganda g usah deket-deket sama evi, eh malah aku di buat nangis, malu banget tau nggak, dah lah nangis, evinya malah ngebela ganda.
Tapi,
yang ngak terlupakan, waktu pelajaran penjaskes si evi sakit trus aku yg nmeni
di UKS. Wah seneng banget, disitu perttama kali aku banyak ngobrol sama evi.
Evi adalah sosok yang berarti bagiku, sehari aja dia gak masuk sekolah besoknya
aku demam, ini beneran loh bukan bo’ongan. Hmmp aq g tw dia masich inget aku
atau tidak sekarang. Aq juga gak tw seperti apa wajahnya sekarang , tapi barang pemberian dia ku simpen trus sampe
sekarang, tapi tinggal kelereng aja, sapu tanganya hilang.
Hari-hariku
ku lewati dengan kebahagian meskipun orang tuaku susah. Tapi aku beruntung
mempunyai teman-temanku yang baik hati, aku ingin terus mengingat mereka
walaupun aku mungkin sekarang tidak bisa bertemu dengan mereka karena jarak
yang sangat jauh, aku ingin menuliskan nama-nama mereka, Karis adalah sahabatku
kami sering mencari sringingi bersama-sama. Deni adalah sahabat yang paling lemot orangtuanya
juga waga trnsmigrasi di daeah dumai, sandro dia adalah sahabatku di kelas, dia
adalah anak orang kaya aku sering di ajak jalan-jalan dengan orangtuanya,
sandro bisa di bilang agak lambat berfikir makanya aku sering datang ke rumahnya ngajarin dia ngerjain pr.
Sampai
pada akhirnya tahun 2002 aku harus
pindah ke Riau, karena suatu hal yang berhubungan dengan sewa tanah itu, aku
menyesalkan ini, mengapa harus ada pertemuan jika akhirnya harus di pisahkan,
aku meninggalkan desa cangkring randu, aku meninggalkan semua kenangan indah,
aku meninggalkan orang-orang yang ku sayang, kedua kakek dan neneku,
teman-temanku, sahabat-sahabatku, terutama Evinia Kristanti, yang kemungkinan
besar aku tak akan pernah lagi aku bisa melihat mereka dan aku akan dilupakan.
Ini
semua karena ulah Slamet yang membuat hidup kami jadi mondar-mandir begini. Bagaimana ini tidak karenanya, tanah yang
di sewakan itu awalnya adalah berstatus sewa, dengan total biaya sewa selama 5
tahun Rp.20.000.000, tapi ternyata otak slamet begitu licik dan picik, dia
mengakui kepada warga sumber makmur bahwa tanah itu telah dibelinya seharga
diatas. Orangtuaku terlambat mengetahuinya, ternyata sebelum slamet menyatakan
tanah itu miliknya dia sudah bekerja sama dengan ketua Rt saat itu (margi) dan
ketua Rw (bp.Edi) mereka sudah menancapkan tanda tanganya atas surat balik nama
atas tanah, begitupun dengan bapaku, tinggal satu tanda tangan lagi yaitu tanda
tangan ibuku maka tanah itu akan berpindah tangan.
nice.. the sweet memory.. jgn lupa mmpir k blog aq juga y..
BalasHapus