Sabtu, 15 Desember 2012

perjalan panjang ku II

"sebelumnya " " Ini semua karena ulah Slamet yang membuat hidup kami jadi mondar-mandir begini. Bagaimana ini tidak karenanya, tanah yang di sewakan itu awalnya adalah berstatus sewa, dengan total biaya sewa selama 5 tahun Rp.20.000.000, tapi ternyata otak slamet begitu licik dan picik, dia mengakui kepada warga sumber makmur bahwa tanah itu telah dibelinya seharga diatas. Orangtuaku terlambat mengetahuinya, ternyata sebelum slamet menyatakan tanah itu miliknya dia sudah bekerja sama dengan ketua Rt saat itu (margi) dan ketua Rw (bp.Edi) mereka sudah menancapkan tanda tanganya atas surat balik nama atas tanah, begitupun dengan bapaku, tinggal satu tanda tangan lagi yaitu tanda tangan ibuku maka tanah itu akan berpindah tangan." ini lanjutanya Untungnya ibuku tidak mau menanda tangani surat itu, so pasti keluarga bapaku masich berhak dalam tanah itu. Karena itu orang tuaku ingin menghindari sesuatu yang tidak di inginkan makanya kami memutuskan untuk tinggal kembali di sumatera. Sungguh terkutuk terkutuk slamet, dari 2 hektar tanah ternyata dia sudah menjual 1 hektar tanah dan memberikan dua 2 sepertiga tanah itu pada kami. Sungguh biadab, dalam hatiku. Bahkan orang 1 desa mangakui ibuku yang jelek, mereka menganggap ibuku berusaha merebut tanah yang sudah dijual kepada slamet, yang sebenarnya tidak ada sedikitpun niatan untuk menjual tanah tersebut. Kami datang kesana dengan nama yang kurang baik, bahkan teman-teman baruku disana tidak di perbolehkan dengan orangtuanya untuk main dengan aku. “seberapa kuat ilmunya untuk semua ini, allah lebihlah kuat dari pada dukun sepertinya” tegas ibuku untuk menenangkanku. Cobaan ini sungguh luar biasa aku baru tau kalu slamet itu dukun. Kami hanya bisa bersabar menerima cobaan, karena yang namanya cobaan itu pasti ada aka nada akhirnya kata ibuku. Semenjak itu orang tuaku sering berantem, saling menyalahkan. Ibuku berargument bahwa bapakulah yang bersalah karena sudah menanda tangani surat tanpa sepengetahuan ibuku pada tahun 1998 lalu. Sedangkan bapaku menyalahkan ibuku yang yidak mau mengingatkan dia. Sempat mereka ingin berpisah dan aku di paksa memilih antara bapak dan ibuku pada tahun 2003, dan aku memilih ibuku, tapi syukurlah itu tidaklah lama. Tapi sejak saat itulah aku kurang akur dengan bapaku karena pilihanku.

1 komentar: